Kamis, 28 April 2011
SYARAT UTAMA KONDISI JIHAD PERANG
Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang terpenting dan merupakan puncak keagungannya.
Kedudukan jihad dalam agama sangat penting dan senantiasa tetap terjaga.
Jihad fii sabiilillaah tetap ada sampai hari Kiamat.
Kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya jihad :
1. Bila musuh sudah di depan mata.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. al-Anfal: 15)
2. Apabila penguasa mempunyai program futuhat/membebaskan wilayah.
قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. Al-taubah: 29)
Syarat-syarat jihad :
1. Mempunyai kemampuan.
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.
(Riwayat Muslim)
2. Mempersiapkan kekuatan yang sepadan.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya. (Al Anfal 60).
3. Di bawah kepemimpinan penguasa.
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari)
Lalu bagaimanakah bila kondisi kaum muslimin lemah ?
1. Berdakwah dan thalabul ilmu.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
2. Mengadakan persiapan jihad.
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”. [At Taubah/9 : 46].
3. Bersabar.
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
(Al Muzammil 10)
4. Tidak melakukan tindakan provokatif.
Ketika 80-an penduduk Madinah berbaiat kepada Nabi pada baiat Aqobah yang kedua, mereka bertanya kepada Nabi Muhamad SAW, “Kenapa kita tidak menyerang penduduk lembah ini (lembah Mina)?” Rasul menjawab, “Aku belum diperintahkan untuk melakukan itu.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/434).
Lalu persiapan yang bagaimanakah yang harus dipersiapkan ?
1. Persiapan pembinaan iman dan taqwa.
Dalam sirah Nabi saw, sebelum tegaknya negara Madinah, beliau pada fase sirriyah di Makkah, beliau mengadakan kegiatan halaqah di rumah shahabat Arqam bin Abil Arqam.
عقد النبي – صلى الله عليه وسلم – اجتماعات سرية بالمسلمين في دار الأرقم ليعلمهم شرائع الإسلام.
Rasulullah ﷺ mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi dengan sahabat-sahabatnya di rumah al-Arqam untuk mengajarkan pada mereka tentang agama Islam.
(Sirah Nabawiyah dari kitab “al-Khullaashoh al-Bahiyyah fiy Tartiibi Ahdaats as-Sirah an-Nabawiyyah”)
2. Persiapan militer.
Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir:
سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al quwwah (kekuatan) yang kalian mampu‘ (QS. Al Anfal: 60) Rasulullah bersabda: ‘ketahuilah bahwa al quwwah itu adalah skill menembak (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim 1917)
Lalu bagaimanakah syari'at jihad ditegakkan bila kaum muslimin tidak mempunyai pemerintahan Islam ?
Tidak adanya seorang imam atau khalifah, ataupun amir bukanlah berarti jihad tidak boleh ataupun tidak bisa dilaksanakan.
Karena terhentinya jihad (sedangkan kondisi menuntut adanya jihad) akan mengabaikan kemaslahatan yang lebih besar.
Di antara dalil yang menunjukkan berlangsungnya jihad meskipun tanpa keberadaan imam adalah perbuatan para sahabat pada perang Mu’tah.
Para sahabat pada saat itu sepakat untuk menunjuk Khalid bin Walid sebagai amir, tatkala tiga amir –Zaid bin Haritsah, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah- yang ditunjuk Rasulullah semuanya syahid.
Ketika pemerintahan Islam belum terwujud kaum muslimin wajib bahu membahu untuk mewujudkannya sehingga syari'at jihad bisa ditegakkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar